Adapun tersebutlah kisah insan yang hidup di bawah naungan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang saban tahun dipertemukan dengan hari kemenangan setelah menempuh bulan penuh ibadah. Maka datanglah hari raya itu sebagai anugerah, namun rasa bahagia di dalam dada manusia tiadalah sama pada tiap-tiap usianya.
Tatkala Kecil, Bahagia dalam Kegembiraan yang Nyata
Maka pada masa kanak-kanak, hari raya itu dipandang sebagai hari yang paling mulia dalam setahun. Dipakainya pakaian yang indah, dijamunya diri dengan makanan yang lazat, serta diterimanya pemberian dari tangan-tangan yang penuh kasih.
Maka tertawalah ia dengan hati yang lapang, berlari tanpa mengenal letih. Baginya, hari raya adalah kegembiraan yang zahir, yang terlihat oleh mata dan terasa oleh pancaindra. Belumlah ia mengerti bahwa hari itu adalah tanda kemenangan jiwa yang telah menahan diri dari hawa nafsu.
Tatkala Remaja, Bahagia dalam Pertemuan dan Pengakuan
Syahdan, ketika usia meningkat remaja, maka hari raya menjadi medan pertemuan dan kebersamaan. Dicarinya sahabat, dikenangnya kenangan, dan diharapkannya perhatian dari sesama. Maka bahagia baginya adalah ketika ia dihargai, dipandang, dan diterima dalam lingkaran pergaulan. Namun dalam diam, hatinya masih bergelora, kerana ia belum sepenuhnya mengenal hakikat hari yang mulia itu.
Tatkala Dewasa, Bahagia dalam Memberi dan Berbakti
Maka tatkala manusia telah dewasa, memikul tanggung jawab kehidupan, maka berubah pula makna bahagia di hari raya. Tiada lagi ia menanti pemberian, melainkan ia menjadi tangan yang memberi. Diberinya yang terbaik untuk keluarga, disiapkannya keperluan dengan penuh kesungguhan, dan diusahakannya kebahagiaan bagi orang-orang yang dikasihi. Maka dalam lelahnya, tersimpan rasa tenang—kerana memberi itu lebih membahagiakan daripada menerima. Dan pada saat itu, ia mulai memahami bahwa hari raya adalah waktu untuk menyambung silaturahmi, memohon ampun, serta membersihkan hati dari segala noda.
Tatkala Menua, Bahagia dalam Syukur dan Keikhlasan
Maka sampailah ia pada usia yang lanjut, di mana hari raya tidak lagi semeriah dahulu. Banyak wajah yang dahulu hadir kini tiada lagi di sisi. Maka duduklah ia dalam keheningan, mengenang masa lalu, seraya memanjatkan doa bagi yang telah pergi. Bahagia baginya bukan lagi pada keramaian, melainkan pada kesempatan untuk tetap beribadah, untuk bersujud dengan tenang, serta untuk memohon agar akhir hidupnya dalam kebaikan. Maka pada usia ini, ia menyadari bahwa hari raya yang sejati adalah ketika hati kembali bersih, sebagaimana fitrah yang suci.
Hakikat Hari Raya yang Sebenarnya
Adapun hari raya itu bukan semata hari bergembira, melainkan hari kembali kepada kesucian. Barang siapa yang hatinya bersih dari dendam, lisannya terjaga dari dusta, dan amalnya ikhlas karena Tuhan, maka dialah yang sebenar-benarnya meraih kemenangan. Maka bahagia itu bukan pada pakaian yang baharu, tetapi pada hati yang diperbaharui. Bukan pada hidangan yang banyak, tetapi pada jiwa yang lapang.
Maka demikianlah hikayat ini mengisahkan bahwa semakin bertambah usia, semakin dalam manusia memahami makna bahagia di hari raya. Jika dahulu ia tertawa karena dunia, maka kini ia tersenyum karena syukur. Jika dahulu ia mencari kebahagiaan, maka kini ia menemukannya dalam keikhlasan. Maka beruntunglah bagi mereka yang menjadikan hari raya bukan sekadar perayaan, tetapi sebagai jalan kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang.

Posting Komentar