Dalam hitungan angka, satu juta rupiah hanyalah gugusan nol yang patuh pada hukum aritmetika. Namun dalam hitungan hidup, ia menjelma menjadi cermin yang jujur, memantulkan wajah manusia sebagaimana adanya harap, cemas, pasrah, dan kadang angkuh. Tatkala satu juta itu dibagi tiga puluh hari, maka yang tersisa bukan semata bilangan tiga puluh tiga ribu sekian, melainkan sebuah pertanyaan purba tentang makna cukup, tentang seni bertahan dan tentang hikmah menakar keinginan.
Seperti pujangga lama yang menakar bait dengan napas, manusia menakar hari dengan isi dompetnya. Setiap pagi adalah halaman baru, dan setiap lembar rupiah adalah aksara kecil yang harus disusun agar maknanya tidak runtuh sebelum senja. Maka pembagian ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan laku sastra kehidupan: bagaimana menulis hari-hari agar tidak berakhir sebagai prosa yang sumbing.
Hari sebagai Bait, Uang sebagai Diksi
Dalam khazanah sastra klasik, bait yang elok tidak ditentukan oleh panjangnya, melainkan oleh kepadatan maknanya. Demikian pula hari. Tiga puluh tiga ribu rupiah sehari bukanlah kalimat panjang, tetapi ia menuntut diksi yang tepat. Salah pilih kata, maka makna ambyar; salah belanja, maka hari pun pincang.
Nasi menjadi metafora kesetiaan, lauk adalah variasi rasa yang harus dijaga agar tidak melampaui anggaran batin. Kopi, jika diminum berlebihan, berubah dari sahabat menjadi pengkhianat yang menggerogoti sisa hari. Di sinilah manusia belajar bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan gaya bahasa tertinggi yang pernah ditemukan peradaban.
Puasa yang Bernama Anggaran
Para pertapa masa silam mengosongkan diri untuk mengisi jiwa. Manusia modern, tanpa jubah dan gua, melakukan laku serupa melalui anggaran. Satu juta dibagi tiga puluh hari adalah puasa yang tak tertulis dalam kitab, namun nyata dalam denyut nadi. Ia melatih kepekaan, mengikis kerak kerak konsumsi yang berlebih, dan mengajarkan bahwa tidak semua keinginan layak diberi panggung.
Dalam laku ini, manusia belajar membedakan lapar perut dari lapar nafsu. Yang pertama menuntut pemenuhan, yang kedua menuntut penundukan. Maka setiap rupiah yang ditahan adalah kemenangan kecil atas diri sendiri, seumpama ksatria tua yang masih mampu menegakkan pedang meski tangan telah renta.
Waktu sebagai Penjaga Makna
Tiga puluh hari adalah musim pendek. Ia berlalu seperti angin sore di ladang ilalang. Namun justru dalam kefanaannya, ia mengajarkan kebijaksanaan: bahwa segala sesuatu yang dibagi dengan waktu akan menyingkap tabiat aslinya. Uang yang tampak besar seketika mengecil, sebagaimana kesombongan yang luluh oleh hari-hari sederhana.
Hari demi hari, manusia dipaksa berdialog dengan dirinya sendiri. Apakah cukup itu soal angka, atau soal sikap? Apakah miskin itu keadaan, atau cara pandang? Pertanyaan-pertanyaan ini berderap seperti barisan kalimat tua, menuntut jawaban yang tidak tergesa.
Hikmah di Antara Angka
Pada akhirnya, satu juta dibagi tiga puluh hari bukanlah kisah tentang kekurangan, melainkan tentang pengetahuan. Ia adalah guru yang tidak berbicara, namun pelajarannya meresap. Ia mengajarkan bahwa hidup yang terukur bukan hidup yang sempit, melainkan hidup yang sadar batas.
Seperti sastra lama yang bertahan melintasi zaman karena kesahajaannya yang anggun, demikian pula hidup yang ditata dengan bijak akan bertahan dari riuh godaan. Maka jika kelak seseorang bertanya, apakah mungkin hidup dengan satu juta sebulan, jawablah dengan senyum seorang tua yang telah kenyang pengalaman: mungkin, asal tahu caranya menulis hari dengan bahasa yang hemat, namun bermakna.

Posting Komentar